Berawal dari kepindahanku ke sebuah kos bertingkat 3 di daerah Benhil-Jakpus yang mana di lantai bawah adalah kantor milik tante kos. Di situ ada adik si tante, sebut saja namanya Panjul, yang juga berkantor di tempat yang sama. Sebagai penghuni baru jelas aja aku sering ke kantor tante kos di bawah nanya2 ini-itu dan kebetulan juga dapur ada di samping kantornya jadi memang harus sering ke bawah. Setiap aku ke ruangan si tante pastinya aku duduk di daerah meja kerjanya sementar si Panjul yang mejanya di sebelah meja si tante terang aja suka nimbrung. Dan si tante emang meyalurkan hobi ngobrolnya denganku jadilah selalu ada pembicaraan entah pas di ruangannya atau pas di dapur sambil makan yang selalu ada mas Panjul dimana-mana. Dari situ juga sambil lalu aku tau klo si Panjul udah menikah dengan wanita yang disetujui kakak2nya karena menurut si tante klo Panjul ini udah 2x dipermainkan wanita padahal hubungan mereka udah ke taraf tunangan. Nah dengan wanita ini yang menurut kakak2nya ‘baik budinya’ langsung mereka secepatnya dinikahkan. Dari cerita para PRT dan sopir katanya rumah tangga si Panjul agak2 kurang bahagia karena istrinya sakit2an dan belum lama habis keguguran hamil anak pertamanya. Pas aku jadi penghuni baru di situ kata mereka istrinya udah hamil lagi tapi harus total bedrest selama hamil, pantesan kok ga pernah tau yang mana istri si Panjul.
Ga beberapa lama aku di situ si tante pergi ke LN untuk waktu yang cukup lama karena suami dan anaknya memang tinggal di negara tersebut. Di sinilah waktunya Panjul beraksi, karena waktu kakaknya masih di sekitarnya dia ga berani bergerak macam2…keliatan banget jaim-nya! Pertama dia ngajak jalan buat ketemu oom&tantenya yang baru datang dari US, dengan alasan “Ayo aku kenalin, kan kamu mau ke US jadi siapa tau ntar mampir ke tempat mereka kan udah kenalan dari Jakarta.” Aku yang emang hari itu lagi ga ada acara ya hayo aja pergi sama dia karena ga ada alasan buat nolak dan kita perginya ga berdua aja. Ternyata eh ternyata…biarpun kita perginya rame-rame selalu ada kesempatan buat dia menatapku dengan penuh arti dan banyak kejadian disengaja yang bikin kita jadi bersentuhan fisik. Waktu pulang tinggal berdua di mobil, karena oom&tantenya turun di arah lain, mulailah dia agak-agak beraksi gombal gitu deh.
Setelah itu tambah gencar aja perhatiannya apalagi semakin dekat dengan keberangkatanku ke US. Beberapa hari terakhir sebelum aku berangkat dia lebih terbuka tentang istrinya yang katanya sakitnya udah parah, dia ga bilang dengan detil cuma “kelebihan daya tahan tubuh” (apa mungkin Lupus ya? CMIIW) jadi harus disuntik tiap hari, ga boleh keluar rumah (kena sinar matahari), dan ga boleh kecapean/stres. Semua katakana dan perhatian yang dia lakukan ga ada sedikitpun aku tergoda untuk memiliki dia, meskipun aku mengakui pesonanya begitu indah. Dia masih muda, pintar, cerdas, berwawasan, punya selera humor yang baik, segi finansial pun lebih dari cukup, datang dari keluarga terpandang, dan cakep juga. Perempuan mana coba yang nolak lelaki macam begini? Pernah dia bilang sambil lalu “Kok kita baru ketemu sekarang ya”. Aku cuma ketawa aja sambil ngebatin “Ya emang kita ga jodoh aja.” Waktu itu beberapa hari aku sempat berangan “Coba klo dia single….coba klo dia belum ada ikatan.” Tapi pada kenyataannya kan ga seindah yang aku bayangkan jadi ya segera buang jauh-jauh deh pikiran kaya gitu. Sempat aku tanya “Mas Panjul, sebenarnya punya perasaan apa terhadap aku? Aku ga mungkin salah sangka kan dengan segala perlakuanmu akhir-akhir ini?” Dia diam lamaaaaaa sekali ga bisa jawab, akhirnya dia bersuara sambil tersendat, “Dik, karena aku sudah menikah.” Ga nyambung banget kan jawabannya?! Aku ga kepengen macam-macam kok dari dia, cuma pengen denger aja sampai di mana dia berani berterus terang. Klo mau sekalian ‘basah’ bersama dia bisa aja kok, lha kesempatannya banyak sekali. Tapi ya itu kembali lagi ke pikiran waras, dia udah punya istri dan anak pertamanya baru lahir, mungkin kebahagiaan yang dicari ga ada di istrinya, mungkin selama ini ada kekosongan di hatinya…..TAPI itu bukan pembenaran buat dia cari perempuan lain. Di sisi lain aku juga takut karma, gimana coba sakitnya klo aku yang jadi istrinya. Jadi saranku buat perempuan-perempuan yang lagi dimabuk cinta sama suami orang nih…ga rela deh dengan alasan apapun klo orang yang kita sayangi membagi kasihnya ke perempuan lain, kan? Stok lelaki lajang dan duda di dunia kan masih banyak sekali…buka mata buka telinga dong, sayaaang! Pandang dirimu yang tersenyum di cermin, semua perempuan itu cantik kok klo tersenyum! Bertanyalah ke lubuk hatimu apa mau hidup tersiksa nantinya karena menjalin affair? Apa mau terus menerus sedih berurai air mata, perasaan was-was takut ketahuan, belum pandangan keluarga dan masyarakat sekitar yang memandang rendah dirimu? Aku percaya pembaca LT kan perempuan Indonesia berpendidikan dan berwawasan jadi mestinya sadar dengan potensi diri buat bangkit dari keterpurukan dan kubangan kesedihan hanya karena kebodohan yang emang ga perlu itu! Lebih baik ngejomblo deh daripada punya pacar kok statusnya MBA (married but available!). Jangan menyakiti diri sendiri ya teman-teman…hidup cuma sekali, isi dengan hal-hal yang bikin kamu bahagia lahir batin….tapi bukan berbahagia di atas penderitaan orang lain dengan dalih apapun ya, itu sih jahat namanya! Setuju banget sama Ria-Wichita….LAKOR? NO WAY JOSE!
Salam manis buat semua pembaca LT di penjuru bumi.
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=49345§ion=95