Archive for March, 2008

Sendiri Lagi

Wednesday, March 5, 2008

Masih teringat Valentine’s Day 14 Februari 2008…hari pink penuh balon cinta di mana2, aku udah nyiapin kue coklat buat Aldo. Waktu aku datang ke tempatnya dia lagi asik main Xbox-nya. Malam itu kita ngabisin waktu ngobrol2 ringan aja. Tapi aku juga ngga bisa membohongi perasaan ini lebih lama lagi. Mau memulai pembicaraan yg agak2 serius tapi kok ngga keluar2 ya. Malam itu aku lebih banyak ‘palsunya’ seakan2 begitu menikmati kebersamaan kami sepanjang malam…..padahal hati ini sudah mulai berkarat pelan2.…..

Setelah malam itu seakan pertanda bahwa hubungan ini ngga bisa aku teruskan lagi. Bukan masalah keadaan finansialnya, tapi ini tentang ketentraman hatiku. Semuanya masih seperti biasa di matanya, seakan2 aku ngga tau apapun tentang banyak hal yg menimpa dirinya. Perlahan tapi pasti aku mulai mengurangi pertemuan kami, pelan2 menjauh darinya. Sebenarnya aku ngga sanggup, masih suka kangen….tapi kubuang jauh2 rasa itu. Memang rasanya menyakitkan dan menyedihkan tapi aku juga ngga mau terus berjalan bersamanya. Aku memilih untuk melangkah pergi meninggalkannya, jadi harus memulai pembicaraan yg jelas….maunya sih biarlah tanpa kata2 karena aku tahu aku ngga akan sanggup mengucapkan selamat tinggal di teduh bening matanya.

Waktu kami bertemu aku ngga nyangka mukanya sebegitu kusutnya. Lalu pelan2 memulai pembicaraan, semuanya mengalir lancar. Tentang terapi ke seorang psikolog yg tak pernah disinggungnya di depanku selama 3 bulan ini, tentang bagaimana hancurnya seorang lelaki disakiti perempuan yg berbagi hidup 8 tahun, tentang sidang pengadilan berdasarkan laporan palsu, dan akhirnya tentang anak laki2 kesayangannya yg dipaksa menjauh darinya. Ah, Aldo….aku ngga pernah nyangka ternyata bebanmu seberat itu. Tanganku masih menggenggam erat tangannya dan kurebahkan kepalanya di pelukanku. Sambil terisak dia bilang minta maaf untuk segala hal yg sudah mengecewakanku, “It’s not fair for you. You’re a wonderful woman and such a sweetheart too. You deserve the best and happiness, not a jerk like me who hurting you so much.”

Rasanya airmata sudah begitu penuhnya, siap mengalir deras sewaktu2…tapi kutahan kuat2. Aku tahu kalau perpisahan ini pasti akan terjadi juga cepat atau lambat, tapi ternyata susah juga menerimanya. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya, tapi di sisi lain aku juga ngga mau kena imbas bebannya. Jadi kubiarkan dia menyelesaikan semuanya sendiri, pelan2 membuang beban hatinya tanpa harus ada aku di dalamnya. Masih sempat bercanda dia bilang, “You’re my best part, maybe down the road I’ll be looking for you again…if you’re still available, coz a woman like you won’t be single too long.”

Saat terakhir kami bertemu masih kucium pipinya seperti biasa sebelum aku pamit pulang. Pelukanku kali itu lama dan begitu erat sambil kupejamkan mata karena aku tahu ini saat terakhir dalam pelukan hangatnya. Dia mengantarku sampai pintu depan….tapi aku tidak berpaling lagi saat melangkahkan kaki di bawah terang sinar bulan yg semestinya indah dinikmati seperti waktu aku jatuh cinta padanya. Tak ada kata selamat tinggal yg terucap karena aku tahu aku masih memikirkannya dan masih ada tempat di hatiku untuk kenangannya. Akhirnya sepanjang jalan pulang aku menangis sendirian, ngga sanggup lagi menahan penuhnya airmata ini.

Maaf Aldo, rasa indah itu perlahan sudah hilang, tatapanku pun mulai berpaling dari teduh matamu, dan hatiku bukan lagi untukmu….

Dini hari 2 Maret 2008, cintaku usai sudah untuk seorang Aldo Padilla.

Saatnya Berpaling

Saturday, March 1, 2008

Hari-hari indah yg kujalani dengan Aldo penuh warna, begitu indah dan menyenangkan. Dekapannya masih sehangat seperti awal kebersamaanku dengannya. Tatapan teduh matanya pun masih selalu bikin aku tersipu. Tapi sebenarnya di lubuk hatiku yg dalam ada banyak penuh tanda tanya, suatu rasa yg mengusikku…..entah apa. Rasa penasaran yg membuncah, kian hari kian bertumbuh subur di balik senyumku untuknya. Dari pertama aku sudah pernah menyampaikan kalau ada apapun yg terjadi harus kami bicarakan bersama, dia pun mengiyakan sambil mengusap rambutku. Waktu itu hatiku tenang dibuatnya. Tapi tentang satu ini entah mengapa selalu tertahan di bibirku, pribadinya agak tertutup bukan seperti aku yg ngga suka simpan rahasia….‘what you see is what you get’ lah ceritanya kalau aku sih!

Lambat laun aku mulai bertanya apakah ada masalah di pekerjaannya atau hal lainnya karena aku sering memergoki air mukanya yg keruh atau tatapan matanya yg kosong di depan TV meskipun acara lagi seru2nya, tapi dia selalu menjawabku kalau tidak ada yg perlu dikhawatirkan. Sering sekali dia duduk berkutat dengan Xbox-nya main videogame dari tengah malam sampai subuh menjelang dengan alasan ngga bisa tidur padahal jam 6 pagi sudah harus siap2 berangkat ngantor. Selalu kutanyakan ada masalah apa tapi selalu menggeleng tersenyum menenangkanku. Kadang2 sambil bercanda sekilas dia bilang tentang kondisi keuangannya yg sedang morat-marit pasca perceraiannya tahun lalu. Aku memakluminya kok, lagian untuk saat ini aku ngga memusingkan hal itu karena keadaan finansialku sekarang ngga perlu bantuan dia…..lhaaa kan status masih ngedate! Kalau suasana hati sedang baik kami duduk bersisian di sofa membicarakan hal sehari2, lama kelamaan dia merinci berapa jumlah uang yg harus dibayar per bulan untuk child support, bayar cicilan mobil, bayar apartemen-listrik-kartu kredit, dan juga mortgage-nya dulu yg belum lunas. Aku mengira-ngira sendiri berapa pendapatan kasarnya dikurangi biaya yg harus dibayarnya. Waaah…dalam hati sih ‘bener aja ni orang bangkrut, tapi masa iya separah itu?’.

Tapi tetap saja ada yg mengusikku dalam hati, harusnya ngga sampai sebesar itu deh pengeluarannya. Aku diam saja sambil bertanya2 sendiri hingga naluri penasaranku semakin tak terkendali, aku mulai mencari tahu sendiri ada apa ini semua. Akhirnya seringkali aku mencuri2 waktu kalau pas aku ke tempatnya dia lagi mandi, kuteliti satu per satu surat tagihannya di meja. Hmmm….jumlahnya memang betul. Aku ngga habis akal, aku ingat di meja pojok kamarnya ada setumpuk dokumen yg rasanya perlu aku buka tapi kan ngga mungkin minta langsung di depan dia buat ngebacanya. Waktunya mencuri2 kesempatan juga belum ada terus, akhirnya saat itu tiba juga….pas dia begadang main Xbox aku sengaja pura2 tertidur di sofa sehingga dia menyuruhku untuk tidur di kamarnya saja jadi lebih nyaman merebahkan badan. Yessss! Saatnya beraksi!!! Sambil memasang telinga setajam2nya aku memastikan dia masih tak beranjak dari depan TV dan langkahku pun berjingkat2.…pelan2 aku ambil dokumen itu, dengan sinar lampu baca yg remang2 aku buka perlahan supaya ngga kedengaran dia kok ada suara kresak-kresek di kamar.

Rasanya dunia berputar dengan hebatnya, tanganku sampai bergetar membaca huruf demi huruf yg terpampang di kertas putih itu….sambil mengerjapkan mata berulang kali berharap aku salah baca, tapi ternyata itu adalah surat2 panggilan dari court dan kasusnya adalah tentang “aggravated indecent assault” dan ada tambahan “corruption of minors”…. aduuuuhhh sampai berkeringat dingin rasanya tangan ini memegang lembaran dokumen itu. Oh tidaaaaaaaaaaaakkk….masa iya laki2 yg sudah bikin aku jatuh cinta belakangan ini ternyata sedang terlibat kasus kriminal yg ngga main2?????? Apalagi tanggal2 surat panggilan ‘hearing’ itu baru2 kemarin. Lalu aku juga menemukan bukti pembayaran sejumlah uang ke kantor pengacara yg tanggalnya berdekatan. Langsung mendadak rasa kantukku hilang, tapi mo ngabur pulang malah ntar dia curiga jadinya kutunggu sampai pagi datang tanpa bisa tidur dgn nyenyak dengan suara videogame yg masih seru di luar sana. Lalu aku bergegas pulang dan sampai di rumah aku cari informasi di internet ttg kata kunci tadi, kubaca satu persatu uraiannya. Yaaa ampuuuunnn, ini sih kasus berat! Addduuuh, masa iya sih dia berlaku kriminal? I couldn’t believe it!!!

Alamaaaakkk…untung aku ngga terjatuh dari kursi….tapi rasanya duniaku sudah berputar2 dengan hebatnya selama 12 jam terakhir itu! Pagi itu aku duduk termenung lama…terbayang semuanya, saat2 indah kami…saat2 dag-dig-dug waktu dia memandangku tersenyum. Seharian itu pun aku ngga ada nafsu makan sama sekali, di kerjaan pun ngga bisa fokus….untungnya juga lagi ngga sibuk. Kuputuskan buat ngga ngebuka permasalahan itu, ntar kelihatan banget aku menggeledah mejanya. Beberapa hari kemudian aku bertemu dengannya, aku bersikap biasa saja seperti hari2 kemarin supaya tidak timbul kecurigaannya. Aku pergunakan waktu sebaik2nya mencari informasi lebih jauh lagi, akhirnya aku menemukan surat perincian tagihan dari kantor pengacara tentang biaya dan keterangannya. Jelas saja dia selalu bangkrut kehabisan uang setiap bulannya karena harus mencicil biaya perkara sekian ribu Dollar!

Setelah malam itu aku memikirkan lagi kelanjutan hubungan ini, rasa2nya kok hatiku ngga sreg lagi yaaa. Bukan aku egois, tapi kalau sosoknya penuh menyimpan beban berat yg belum terselesaikan kok aku ngga bisa meneruskan langkah ini bersamanya….

Entahlah….mungkin saatnya aku pergi menjauh?