Masih teringat Valentine’s Day 14 Februari 2008…hari pink penuh balon cinta di mana2, aku udah nyiapin kue coklat buat Aldo. Waktu aku datang ke tempatnya dia lagi asik main Xbox-nya. Malam itu kita ngabisin waktu ngobrol2 ringan aja. Tapi aku juga ngga bisa membohongi perasaan ini lebih lama lagi. Mau memulai pembicaraan yg agak2 serius tapi kok ngga keluar2 ya. Malam itu aku lebih banyak ‘palsunya’ seakan2 begitu menikmati kebersamaan kami sepanjang malam…..padahal hati ini sudah mulai berkarat pelan2.…..
Setelah malam itu seakan pertanda bahwa hubungan ini ngga bisa aku teruskan lagi. Bukan masalah keadaan finansialnya, tapi ini tentang ketentraman hatiku. Semuanya masih seperti biasa di matanya, seakan2 aku ngga tau apapun tentang banyak hal yg menimpa dirinya. Perlahan tapi pasti aku mulai mengurangi pertemuan kami, pelan2 menjauh darinya. Sebenarnya aku ngga sanggup, masih suka kangen….tapi kubuang jauh2 rasa itu. Memang rasanya menyakitkan dan menyedihkan tapi aku juga ngga mau terus berjalan bersamanya. Aku memilih untuk melangkah pergi meninggalkannya, jadi harus memulai pembicaraan yg jelas….maunya sih biarlah tanpa kata2 karena aku tahu aku ngga akan sanggup mengucapkan selamat tinggal di teduh bening matanya.
Waktu kami bertemu aku ngga nyangka mukanya sebegitu kusutnya. Lalu pelan2 memulai pembicaraan, semuanya mengalir lancar. Tentang terapi ke seorang psikolog yg tak pernah disinggungnya di depanku selama 3 bulan ini, tentang bagaimana hancurnya seorang lelaki disakiti perempuan yg berbagi hidup 8 tahun, tentang sidang pengadilan berdasarkan laporan palsu, dan akhirnya tentang anak laki2 kesayangannya yg dipaksa menjauh darinya. Ah, Aldo….aku ngga pernah nyangka ternyata bebanmu seberat itu. Tanganku masih menggenggam erat tangannya dan kurebahkan kepalanya di pelukanku. Sambil terisak dia bilang minta maaf untuk segala hal yg sudah mengecewakanku, “It’s not fair for you. You’re a wonderful woman and such a sweetheart too. You deserve the best and happiness, not a jerk like me who hurting you so much.”
Rasanya airmata sudah begitu penuhnya, siap mengalir deras sewaktu2…tapi kutahan kuat2. Aku tahu kalau perpisahan ini pasti akan terjadi juga cepat atau lambat, tapi ternyata susah juga menerimanya. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya, tapi di sisi lain aku juga ngga mau kena imbas bebannya. Jadi kubiarkan dia menyelesaikan semuanya sendiri, pelan2 membuang beban hatinya tanpa harus ada aku di dalamnya. Masih sempat bercanda dia bilang, “You’re my best part, maybe down the road I’ll be looking for you again…if you’re still available, coz a woman like you won’t be single too long.”
Saat terakhir kami bertemu masih kucium pipinya seperti biasa sebelum aku pamit pulang. Pelukanku kali itu lama dan begitu erat sambil kupejamkan mata karena aku tahu ini saat terakhir dalam pelukan hangatnya. Dia mengantarku sampai pintu depan….tapi aku tidak berpaling lagi saat melangkahkan kaki di bawah terang sinar bulan yg semestinya indah dinikmati seperti waktu aku jatuh cinta padanya. Tak ada kata selamat tinggal yg terucap karena aku tahu aku masih memikirkannya dan masih ada tempat di hatiku untuk kenangannya. Akhirnya sepanjang jalan pulang aku menangis sendirian, ngga sanggup lagi menahan penuhnya airmata ini.
Maaf Aldo, rasa indah itu perlahan sudah hilang, tatapanku pun mulai berpaling dari teduh matamu, dan hatiku bukan lagi untukmu….
Dini hari 2 Maret 2008, cintaku usai sudah untuk seorang Aldo Padilla.